Sahabat atau Beban

Sahabat atau Beban
Karya: Leadwina Queen

Namaku Elena, aku siswi kelas 9 di sekolahku. Temanku bernama Clara, dia adalah teman yang asik. Kami berteman dari awal kelas 7 hingga sekarang, banyak masalah yang telah kami hadapi bersama. Terkadang, kami bertengkar hingga lama berbaikan namun, pada akhirnya kami berteman lagi.

Hari menjelang kemerdekaan pun tiba, aku mendengar dari salah satu anggota OSIS bahwa akan ada lomba pidato. Aku sangat ingin mengikuti lomba tersebut namun, aku ragu dan bimbang karena takut Clara akan melarangku kali ini. Aku merasa capek atas perbuatannya selama ini, kadang dia meminta maaf atas perbuatannya namun setelahnya dia berbuat seperti itu lagi. Terkadang Aku berpikir, bagaimana kalau aku menjauhinya saja, namun Aku selalu mengurungkan niatku itu karena kasihan kalau saja dia tidak mendapat teman baru.

Di rumah, aku teringat akan apa yang diajarkan di gereja minggu lalu. Minggu lalu, pendeta berkata bahwa "keberanian akan memerdekakan kamu". Dari situ aku berusaha dan semakin yakin dengan tujuanku di sekolah esok hari. Rencanaku adalah Aku akan menumpahkan isi hatiku pada Clara tentang apa yang kurasa selama ini.

Keesokan harinya aku bertemu dengan Clara di kelas, aku mengajaknya ke toilet untuk membicarakan perasaanku. "Cla.." kataku, "ke toilet bentar, yuk, temani." lanjutku. "Ayok." Jawabnya. Sesampainya di toilet aku langsung berkata sejujurnya. "Cla, aku mau jujur.." kataku pelan, namun terlihat dari wajahnya bahwa ia sedang khawatir. "Sebenarnya selama ini aku capek samamu. Kau selalu ga bolehin aku untuk lakuin hal-hal yang kumau, aku sampai ragu untuk ikut lomba karena takut bakal kau larang," lanjutku tanpa memotong satu kata apapun. "Tapi kurasa pertemanan ini udah nggak baik buat dilanjutin lagi dengan sikapmu yang selalu kayak gitu ke aku, aku—" kataku yang langsung dipotong Clara, “Na, aku minta maaf kalau selama ini kau ngerasa kayak gitu. Sebenarnya aku cuma nggak mau kehilangan teman pertamaku di sini. Aku takut kalau kau punya teman lain yang lebih asik dariku sampai kau nanti nggak temenin aku lagi. Tapi kalau kau maunya kayak gitu yaudah aku bakalan kasih” ucap Clara dan langsung pergi dari toilet. Aku merasa sedih kalau ternyata pertemananku dan Clara harus berakhir begitu saja, tapi demi hal yang lebih baik mau tak mau aku harus melakukannya.

Akhirnya, setelah hari itu aku mendapat teman baru yang lebih baik, yang baik dan membuatku benar-benar merasakan apa arti pertemanan yang sebenarnya. Dan aku sadar, kalau Tuhan akan selalu membebaskan dan memerdekakan kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Njai Dasima: Tragedi Cinta dan Bujukan Berbalut Agama

Leadwina Queen